Makanan Laut, dan Mereka yang Alergi Padanya
Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dari penulis ketika mendapat sebuah tugas satu bulan dari kampusnya untuk mengunjungi suatu desa di Subang.
Pagi itu hari Minggu, tak terasa saya sudah memasuki hari ke-23 berada di Subang.
Saya dan teman-teman saya sudah berencana untuk mengisi hari libur tersebut untuk berlibur di Pantai Anggaranu di temani oleh warga lokal di sana.
Perjalanan saya ke Pantai Anggaranu memakan waktu kurang lebih 1 jam dari desa tempat kami tinggal. Kami berjalan selama 30 menit menggunakan mobil pinjaman warga desa dan 30 menit lagi kami menaiki perahu untuk sampai ke Pantai Anggaranu. Namun, mungkin kami sedang sial, perahu kecil yang kami naiki hanya cukup untuk 5 orang. Sehingga 5 orang sisanya berjalan kaki sambil menunggu perahu kembali membawa kami. Dan saya termasuk ke dalam 5 orang yang berjalan kaki, lo.
Di perjalanan, mata kami dimanjakan oleh indahnya alam sekitar hutan mangroove. Dan tentu saja, hal tersebut membuat hati kami menjadi "wah" karena kami adalah orang kota dan saya pribadi juga baru pertama kali melihat ekosistem hutan mangroove.
Indah sekali, bukan? Dengan melihat alam di sekitar, perjalanan berjalan sangat nikmat dan perahu yang dinantikan pun tiba.
Kami meneruskan perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai di tempat tujuan. Dan yang saya tidak sangka, Pantai Anggaranu adalah sebuah pulau kecil di tengah laut. "Indahnya...." pikirku.
Setibanya di sana, saya tertarik untuk memancing, karena memancing di alam liar sangatlah menantang. (lol)
Oke, saya dapat pancingan, namun ikan yang ditunggu tak kunjung tiba... dengan persediaan umpan yang menipis di tangan, saya mempertaruhkan segalanya pada umpan terakhir ini. "Kalo engga dapet, bukan rejeki deh" pikirku. Saya lempar kailnya dengan sangat kuat, lalu teman saya datang untuk meminjam pancingan, dan tentu saja saya beri, namun dia lah yang harus menarik pancingannya dahulu. Teman saya mengatakan kalau pancingan ini berat di tarik, pertanda ada ikan yang kena. Namun saya tidak gubris. Mengingat watak teman saya yang suka membuat lelucon, mungkin hal ini adalah salah satu leluconnya.
ketika kail sudah dekat ditarik dari pancingan.... dan tak diduga... kami mendapat lele laut (Ikan Sembilang bahasa ilmiahnya)
Maaf, karena saya tidak dapat menampilkan foto ikan lelenya, soalnya fotonya hilang...
Ikan tersebut memiliki ukuran sebesar paha orang dewasa. "JACKPOT COY!" kami semua bersorak kegirangan. Dan tentu saja, kami semua langsung memasak ikan yang kami dapat termasuk Ikan Lele yang lumayan besar tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kami memasak di pinggir pantai, membuat api unggu sendiri, dan bumbu-bumbu yang di bawa dari rumah.
Ikan lele di hidangkan bersama nasik dan beberapa dedaunan untuk membuat selera makan kami bertambah, dan tentu saja. Makan di pulau kecil yang hanya berisi kami dan rombongan 10 orang saja, terasa sangat nikmat.
Pagi itu hari Minggu, tak terasa saya sudah memasuki hari ke-23 berada di Subang.
Saya dan teman-teman saya sudah berencana untuk mengisi hari libur tersebut untuk berlibur di Pantai Anggaranu di temani oleh warga lokal di sana.
Perjalanan saya ke Pantai Anggaranu memakan waktu kurang lebih 1 jam dari desa tempat kami tinggal. Kami berjalan selama 30 menit menggunakan mobil pinjaman warga desa dan 30 menit lagi kami menaiki perahu untuk sampai ke Pantai Anggaranu. Namun, mungkin kami sedang sial, perahu kecil yang kami naiki hanya cukup untuk 5 orang. Sehingga 5 orang sisanya berjalan kaki sambil menunggu perahu kembali membawa kami. Dan saya termasuk ke dalam 5 orang yang berjalan kaki, lo.
Di perjalanan, mata kami dimanjakan oleh indahnya alam sekitar hutan mangroove. Dan tentu saja, hal tersebut membuat hati kami menjadi "wah" karena kami adalah orang kota dan saya pribadi juga baru pertama kali melihat ekosistem hutan mangroove.
Indah sekali, bukan? Dengan melihat alam di sekitar, perjalanan berjalan sangat nikmat dan perahu yang dinantikan pun tiba.
Kami meneruskan perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai di tempat tujuan. Dan yang saya tidak sangka, Pantai Anggaranu adalah sebuah pulau kecil di tengah laut. "Indahnya...." pikirku.
Setibanya di sana, saya tertarik untuk memancing, karena memancing di alam liar sangatlah menantang. (lol)
Oke, saya dapat pancingan, namun ikan yang ditunggu tak kunjung tiba... dengan persediaan umpan yang menipis di tangan, saya mempertaruhkan segalanya pada umpan terakhir ini. "Kalo engga dapet, bukan rejeki deh" pikirku. Saya lempar kailnya dengan sangat kuat, lalu teman saya datang untuk meminjam pancingan, dan tentu saja saya beri, namun dia lah yang harus menarik pancingannya dahulu. Teman saya mengatakan kalau pancingan ini berat di tarik, pertanda ada ikan yang kena. Namun saya tidak gubris. Mengingat watak teman saya yang suka membuat lelucon, mungkin hal ini adalah salah satu leluconnya.
ketika kail sudah dekat ditarik dari pancingan.... dan tak diduga... kami mendapat lele laut (Ikan Sembilang bahasa ilmiahnya)
Maaf, karena saya tidak dapat menampilkan foto ikan lelenya, soalnya fotonya hilang...
Ikan tersebut memiliki ukuran sebesar paha orang dewasa. "JACKPOT COY!" kami semua bersorak kegirangan. Dan tentu saja, kami semua langsung memasak ikan yang kami dapat termasuk Ikan Lele yang lumayan besar tersebut. Tidak tanggung-tanggung, kami memasak di pinggir pantai, membuat api unggu sendiri, dan bumbu-bumbu yang di bawa dari rumah.
Ikan lele di hidangkan bersama nasik dan beberapa dedaunan untuk membuat selera makan kami bertambah, dan tentu saja. Makan di pulau kecil yang hanya berisi kami dan rombongan 10 orang saja, terasa sangat nikmat.



0 comments: